Rampoe UGM Dalam Misi Diplomasi Budaya di FESCO Malaysia

Malaysia, apa yang terlintas di pikiran kalian ketika mendengar kata itu ? Sebuah negeri tetangga yang disebut dengan Negeri Jiran, dua menara kembar-nya yang terkenal, sebuah negera multiculture berbahasa melayu. lalu, bagaimana dengan Kesenian Aceh ? apa yang ada dipikiran kalian ketika mendengar kata itu ? aaahhh....aku tahu pasti selalu 'Saman' yang terlintas di pikiran kalian, baiklah bagaimana kalau sekarang aku beritahu tentang 'Ratoeh dan Rapaii' , pernahkah kalian mendengar sebelumnya ? Ratoeh dan Rapaii adalah Tari Tradisional yang berasal dari Kota Serambi Mekkah tersebut. Lalu, apa hubungan antara Malaysia dan Kesenian Aceh ? Jika kalian membaca postingan Blog saya beberapa waktu yang lalu saya menyebutkan bahwa saya bergabung dengan Rampoe UGM yaitu sebuah sanggar tari Aceh. Yup, pada Maret lalu tepatnya tanggal 26-31, alhamdulillah kami Rampoe UGM diberi kesempatan untuk mengikuti Festival Colour Of The World (FESCO) di Universiti Teknologi Petronas Malaysia.. Bagaimana perjalanan kami disana ?


Persiapan (FIB: Plataran Sastra, MEC, Margono)
Bukan Rampoe UGM namanya kalau tanpa persiapan. Ya, berbulan-bulan kami mempersiapkan untuk penampilan terbaik. Rapat setiap hari sabtu di plasa lantai 3, latihan, danus, sampai street performance di 0 KM kami jalani demi terselenggaranya imipian kami ini yaitu membawa nama harum Indonesia di mata dunia, memperkenalkan kesenian aceh ini di kancah internasional. orang bijak berkata nikmatilah prosesnya, oleh karena itu meski proses ini tidaklah mudah, kami tetap menikmatinya, meski dalam perjalanan ini badan terasa lelah, hati ini juga lelah (apaan sih :p), waktu, pikiran, materi, dan hal lain yang kami korbankan tidak terasa ketika dinikmati bersama orang-orang yang luar biasa di tim ini, dan dari persiapan ini lah rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan kedekatan antar sesama terbangun.



rapat rutin feco
jahit payet buat topi

latihan di gsp

SP at 0 KM

Hari Keberangkatan

Rabu, 26 Maret 2014
29 orang yang terdiri dari 12 Penari Putra, 12 Penari Putri, 2 Syahi, 2 Official Team, dan 1 Fotografer berangkat dari Bandara Adi Sucipto Jogjakarta dengan Pesawat Tiger Air menuju Changi Airport Singapore, tempat transit kami sebelum menuju Malaysia.Bagi beberapa dari kami ini merupakan kali pertamanya menaiki pesawat, tenang....kami yang baru pertama kali ini gak norak kok cuman sedikit gugup. (hehehe). Pukul 18.00 WIB terbanglah pesawat kami menuju Singapore. Terimakasih teman-teman dari Rampoe UGM yang sudah mengantar kami di Bandara dalam Misi Diplomasi Budaya ini.

Nafisah dan Nuna yang ikut mengantar



setelah kurang lebih 2 jam perjalanan, mendaratlah pesawat kami di Bandara yang katanya terbaik di dunia. Ini merupakan pertama kalinya bagi saya dan mungkin beberapa teman lainnya berada di luar batas tertorial Indonesia. Kami akan bermalam di Changi untuk melanjutkan perjalanan kami esok pagi. eiitts... tenang meski transitnya lama tapi tetap tidak mati gaya berada di bandara satu-satunya di Singapura, ada berbagai macam fasilitas yang bisa kita manfaatkan secara cuma-cuma disini, diantaraya wifi, water tap untuk minum yang tersedia di beberapa titik di bandara, berbagai macam taman untuk foto-foto, TV dengan Big Screen, kursi pijat, game center, dan lain sebagainya. Saya dengan beberapa teman (Cory,Hanik,Afifah) mencicipi nasi kucing ala singapur di Changi (yaelah, jauh-jauh ke singapur makannya nasi kucing jg :p).

makan nasi kucing ala Singapore :p



Kamis, 27 Maret 2014
Kurang lebih pukul 10 waktu sana, pesawat kami terbang menuju Kuala Lumpur International Airport (KLIA) dan tiba disana kurang lebih pukul 12 siang. yap, akhirnya kami mendarat di negeri-nya Siti Nurhaliza. Setelah, menunggu tim lain dari UGM yaitu UKJGS yang berpartisipasi jg di FESCO kami ditemani oleh panitia FESCO berangkat menuju UTP, karena letak UTP yang berada di Perak yang jauh dengan KL oleh karena itu kami harus melalui perjalanan yang panjang lagi.
saya lupa sudah pukul berapa saat sampai di UTP, mungkin kisaran maghrib waktu setempat kami tiba disana. Setelah makan malam kami pun diantar menuju asrama masing-masing. Meski lelah yang kami rasakan tertutupi dengan rasa antusias kami menyabut kegiatan pertukaran budaya esok hari, bagaimnapun kami haru istirahat. :)

Jumat, 28 Maret 2014
Hari ini kami akan menampilkan hasil dari latihan kami berbulan-bulan, meski rasa kecewa karena berita pesawa Malaysia yang jatuh, meski rasa kecewa karena tidak tampil di panggung yang seharusnya tapi kami harus memberikan yang terbaik. Sebelum tampil, pada pagi harinya kami diajak berkelililng ke cancellar Hall UTP dan Perpustakaannya yang kereeeeeeeeennn gilaaaaaa...
Rampoe UGM at Cancellar Hall UTP

Perpustakaan UTP

setelah berkeliling, selesai sholat Jumat kami bersiap-siap dengan peralatan perang untuk tampil. Kostum yang akan kami kenakan merupakan kostum baru, jadi kami harus berusaha semaksimal mungkin agar terlihat cantik dan menawan di depan peserta FESCO lainnya. Alhamdulillah, penampilan kami berjalan lancar meskipun saya melakukan kesalahan di awal karena demam panggung (maaaf yaa rakaan :( .. )
Penampilan Tim Putri Rampoe
Ka Desti dan Ucup
Foto bersama peserta FESCO lainnya

Penampilan Tim Putra Rampoe



setelah penampilan dari peserta FESCO yang sangat-sangat luar biasa dan menyenangkan untuk ditonton, kami pun bersiap dianta menuju asrama kembali untuk bersiap ke acara berikutnya yaitu nongkrong di Ipoh Parade Shopping Mall. Pada umumnya Mall ini tidak berbeda dengan mall yang ada di Indonesia hanya bahasanya yang berbeda.

Sabtu, 29 Maret 2014
Perjalana pertukaran budaya ini terus berlanjut. Untuk semakin mengakarabkan diri dengan peserta FESCO lainnya kami di tempatkan di satu Bis bersama teman-teman dari Universiti Malaysia Sabang (UMS) agar bisa lebih kenal satu sama lain. Hari ini kami dijadwalkan untuk pergi ke Cameron Highland, apa itu Cameron Highland ? ssingkatnya adalah Lembang/Malang nya Perak lah. :p . Disana kami mengungjungi peternakan lebah dan membeli sedikit oleh-oleh di pasar yang saya lupa namanya. Saya juga mencicipi Nasi Kerabu disana.
Di Cameron Highland

Nasi Kerabu
Teh Tarik

setelah lelah berjalan-jalan dan menikmati pemandangan Cameron Highland, malam harinya kami ke Universiti Pendidikan Sultan Idris untuk menonto monodrama. Meskipun dialognya menggunakan bahasa melayu yang saya tidak mengerti artinya namun ekspresi dari para pemainnya yang keren banget membantu saya dan teman-teman menikmati penampilan mereka.
Rampoe UGM at UPSI Malaysia

Monodrama: Kopi Pangku
 Minggu, 30 Maret 2014
Hari terakhir kami di Perak, subuh-subuh sekali kami sudah bersiap untuk meninggalkan asrama UTP dan menuju KL. Beberapa rombongan lain dari Indonesia memilih untu tetap tinggal di Perak dan melanjutkan perjalan mereka ke Pulau Lumut. Perjalanan Perak-KL yang memakan waktu sangat panjang ini membnatu saya dan beberapa teman saya untuk berisitirahat karena semalam setelah pulang dari IPSI kami tidak tidur, di salah satu rest area kami berhenti untuk makan pagi dan sepanjang saya berada di Malaysia Teh tarik yang saya minum di rest area itulah yang paling enak menurut saya. Setelah Bus yang kami naiki muter-muter karena banyak jalan yang ditutup karena  ada pertandingan F1 di Sentul akhirnya siang hari pukul berapa saya lupa, kami sampai di Hotel tempat kami akan menginap di KL yaitu Hotel Melati di China Town. Setelah istirahat sekitar 1 jam, beberapa dari kami bersiap untuk pemotretan produk sponsor dan beberapa dari kami berbelanja oleh-oleh di Pasar Seni. Pasar Seni ini menurut saya seperti Pasar Barunya Jakarta, disana saya dan teman-teman membeli cokelat yg kami peroleh dengan murah hasil dari patungan (maklum mahasiswa :p) dan beberapa pernak-pernik lainnya. Menjelang sore, setelah selesai dengan beberapa urusan kami menuju ke sebuah tempat yang menjadi icon Malaysia yaitu twin tower, kami naik GO KL yang gratis dan berfasilitas free wifi, meski diguyur hujan, insya allah semangat kami tidak akan luntur (prreettt).
GO KL

ida & afifah
Rampoe UGM at twin tower
Karena waktu yang kami miliki disana terbatas jadi kami tidak sempat masuk ke dalam twin tower, kami kembali menuju Hotel menggunakan monorail dengan harga yang saya lupa berapa (hehe). Monorail ini sudah sangat modern sekali menurut saya, semoga Indonesia juga punya transportasi yang lebih baik lagi (amiinn). Malam sebelum kepulangan kami, ini waktu bebas, beberapa dari kami memutuskan untuk ke pasar seni membeli oleh-oleh dan beberapa memutuskan untuk berisitirahat di Hotel. Disana saya juga mencicipi KFC ala sana sebagian besar menunya hampir sama yaitu Fried Chicken, Soft Drink dan Hamburger yang membedakan adalah menu nasi disana hanya ada nasi lemak dan variasi saus dan rasanya yang berbeda. Malam terakhir kami di Malaysia, rasa rindu terhadap tanah air, dataran Jogja, kasur di kos sendiri, rasa nasi di burjo, mulai terbayang.

Senin, 31 Maret 2014
Subuh hari, kami sudah check out dari Hotel dan menuju Bandara, menggunakan taksi dengan harga 100 RM dari China Town ke KLIA. Kami pulang dengan pesawat Air Asia , pukul 10 waktu sana pesawat yang kami naiki-pun terbang menuju Indonesia. 2 jam kemudian kamipun mendarat di Bandara Adi Sucipto. Selamat datang kembali rakan di kota yang romantis di setiap sudutnya kata pa Anies Baswedan. :)
Rampoe UGM di Bandara Adi Sucipto


Sungguh pengalaman ini luar biasa dan tidak akan terlupakan. Meski rasa kecewa dan sedih ada, tapi kebersamaan ini lebih patut dikenang daripada rasa kecewa dan sedih itu sendiri. Percayalah rakan tidak ada usaha yang sia-sia. Terimakasih Rabb sudah memberikan kami kemudahan serta kelancaran selama kami menjalani misi diplomasi budaya kami, terimakasih rabb sudah memberi kami kesempatan, terimakasih rakan sudah memberiku kesempatan dan pengalaman yang luar biasa ini. Semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk berpetualangan memperkenalkan tari aceh ini di tempat lain yang lebih luar biasa. :)




link-link yang terkait rampoe ugm dalam keberangkatan ke FESCO Malaysia:
http://kr.co.id/read/211165/rampoe-ugm-warnai-panggung-internasional-di-malaysia.kr
http://www.balairungpress.com/2014/04/keberangkatan-tim-rampoe-ugm-dalam-festival-colour-of-the-world/
http://www.youtube.com/watch?v=XpjQydUOe6w (video)
http://www.youtube.com/watch?v=Ds02n53o5Ks (video)

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

6 komentar:

  1. itu di changi ada Nasi kucing beneran??

    BalasHapus
    Balasan
    1. semacam nasi lemak sih mas kayaknya. :D

      Hapus
  2. ceileh yang ke malaysia, :)

    BalasHapus
  3. dan harganya mencengangkan..
    3 dollar hanya untuk nasi kucing yang hanya segenggam kepalan tangan...heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan aku belum kembalian. hahaha :D

      Hapus